|
|
|
|
Dari Abu Zaid al-Khudri Rodhiallahu anhu bahwasanya Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, " Pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 orang, kemudian ia mencari-cari orang yang paling alim (pandai) di negeri itu, maka ia ditunjukkan kepada seorang pendeta, iapun lantas datang kepada sang pendeta dan menceritakan bahwasanya ia telah membunuh 99 orang, ia bertanya, "Apakah masih bisa diterima taubatnya?" Kemudian sang pendeta mengatakan, "tidak, taubatmu tidak akan bisa diterima." Lantas orang itu membunuh sang pendeta tadi maka genaplah menjadi 100 orang. Orang yang sangat alim itu menjawab, "Ya, masih bisa, siapakah yang akan menghalangi seseorang untuk bertaubat? Pergilah kedaerah sana karena penduduk daerah itu menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sembahlah Allah bersama-sama dengan mereka dan janganlah engkau kembali lagi ke kampung halamanmu karena perkampunganmu adalah daerah hitam." Maka pergilah orang itu, setelah menempuh jarak kira-kira setengah perjalanan ia meninggal. Kemudian Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab bertengkar. Malaikat Rahmat membela, "Ia berangkat kesana untuk benar-benar bertaubat dan menyerahkan dirinya dengan sepenuh hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala" Sedang Malaikat Adzab berkata, "Sesungguhnya ia belum pernah berbuat kebaikan sedikitpun." Lantas seorang malaikat datang dalam bentuk manusia, dan kedua malaikat itu bersepakat menjadikannya sebagai hakim. Malaikat yang menjadi hakim itu berkata, "Ukurlah olehmu jarak kedua daerah itu, dan kepada daerah yang lebih dekat itulah ketentuan nasibnya." Mereka mengukurnya, kemudian mereka mendapatkan daerah yang dituju itulah yang lebih dekat, dengan demikian orang itu dicabut nyawanya dan diterima oleh Malaikat rahmat." Salah satu pelajaran yang terdapat dalam kisah ini adalah pintu ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala itu sangat luas sehingga selayaknyalah bagi kita para pelaku kemaksiatan untuk bersegera bertaubat. Segerakanlah bertaubat!!! Saat ini juga! Karena kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup didunia. |