JALANILAH SESUATU DENGAN KESENANGAN AGAR MENDAPATKAN HASIL YG MAKSIMAL. GOOD LUCK !!
Sabtu, 03 Maret 2012
RASA PERCAYA DIRI YG TERLATIH
Rasa Percaya Diri adalah tiga rangkaian kata yang apabila dipecah akan mempunyai makna sendiri-sendiri,
Rasa adalah perasaan diri yang teridentifikasi dari hati dan dicerna di otak.
Percaya adalah komitmen dari hati yang berbuah perilaku.
Sedangkan Diri adalah tempat bersemayamnya Rasa Percaya.
Rasa Percaya Diri adalah potensi yang sangat luar biasa dan mempengaruhi standar kualitas hidup pada setiap manusia .
Apabila sebutan pada anda “rasa percaya diri anda tinggi” itu berarti potensi rasa percaya diri yang sudah melalui proses latihan.
Melatih Rasa Percaya Diri
Melatih rasa percaya diri tidak sebatas sekedar mengetahui ilmunya melalui membaca buku, tetapi jauh lebih penting adalah dengan mengkondisikan diri pada situasi yang memberikan pengalaman bagi si rasa percaya diri, misalnya:
MENJADI BAHAGIA
Bahagia
bukan suatu pengharapkan, bukan sesuatu yang diminta-minta, Bahagia adalah
suatu pilihan yang kita lakukan.
Kita dapat memilih bahagia atau kesedihan, Ketika kita diberi suatu kondisi yang sama, ada yang memilih bahagia, tapi ada yang memilih untuk tidak.
Tapi anehnya ketika pilihan itu telah kita lakukan, kita tidak siap untuk bersedih...
Aneh, tapi coba pikirkan contoh ini,
Ketika kita memilih untuk tidak belajar pada saat ujian, kita tidak siap untuk mendapatkan nilai jelek.
Ketika kita memilih marah dan benci, kita tidak siap untuk merasakan perasaan sakit tersebut.
Hidup ini pilihan, <!--more-->
Ketika sebuah kondisi yang sama diberikan kepada sejumlah orang, hasil dari kondisi tersebut sangat tergantung pada reaksi orang tersebut, sangat tergantung pada pilihan mereka. Mereka dapat memilih untuk menerimanya sebagai anugerah, sebagai kesempatan untuk memperkuat diri. Atau mereka dapat juga memilih untuk menerimanya sebagai sumber derita atau kesialan.
Jadi pilihlah bahagia, jika kita memilih bahagia maka setiap tindakan dan gagasan kita adalah kebahagiaan, dan kita bisa BELAJAR untuk memilih yang baik, BELAJAR menjadi Bahagia.
Kita belajar untuk mengasihi, kita belajar untuk mensyukuri, kita belajar untuk berbagi, kita belajar untuk saling melengkapi, kita belajar dalam kondisi di mana "Universal Love" menyertai langkah kita.
Dengan Pilihan untuk Bahagia, dan kita berani belajar untuk bahagia, maka pilihan yang kita lakukan akan menghasilkan konsekwensinya yaitu "KEBAHAGIAAN"
Kita dapat memilih bahagia atau kesedihan, Ketika kita diberi suatu kondisi yang sama, ada yang memilih bahagia, tapi ada yang memilih untuk tidak.
Tapi anehnya ketika pilihan itu telah kita lakukan, kita tidak siap untuk bersedih...
Aneh, tapi coba pikirkan contoh ini,
Ketika kita memilih untuk tidak belajar pada saat ujian, kita tidak siap untuk mendapatkan nilai jelek.
Ketika kita memilih marah dan benci, kita tidak siap untuk merasakan perasaan sakit tersebut.
Hidup ini pilihan, <!--more-->
Ketika sebuah kondisi yang sama diberikan kepada sejumlah orang, hasil dari kondisi tersebut sangat tergantung pada reaksi orang tersebut, sangat tergantung pada pilihan mereka. Mereka dapat memilih untuk menerimanya sebagai anugerah, sebagai kesempatan untuk memperkuat diri. Atau mereka dapat juga memilih untuk menerimanya sebagai sumber derita atau kesialan.
Jadi pilihlah bahagia, jika kita memilih bahagia maka setiap tindakan dan gagasan kita adalah kebahagiaan, dan kita bisa BELAJAR untuk memilih yang baik, BELAJAR menjadi Bahagia.
Kita belajar untuk mengasihi, kita belajar untuk mensyukuri, kita belajar untuk berbagi, kita belajar untuk saling melengkapi, kita belajar dalam kondisi di mana "Universal Love" menyertai langkah kita.
Dengan Pilihan untuk Bahagia, dan kita berani belajar untuk bahagia, maka pilihan yang kita lakukan akan menghasilkan konsekwensinya yaitu "KEBAHAGIAAN"
MENGHUKUM DIRI SENDIRI
Suatu
ketika, Raden Permadi didatangi sekelompok “orang kampung” dalam keadaan cemas.
Kelompok orang tersebut minta pertolongan sang ksatria untuk menumpas sekawanan
perampok yang sedang merajalela di kampungnya.
Terdorong rasa kemanusiaan yang mendalam, apalagi mentaati posisinya sebagai penjaga ketentraman, Raden Permadi tanpa pikir masuk ke gudang senjata, mengambil panah sebagai sarana untuk menghadapi pengacau.
Betapa terkejutnya dia, karena didapati kakaknya, Raden Yudisthira sedang memadu kasih dengan Dewi Drupadi. Suatu tindakan tidak sopan bagi adik untuk menyaksikan keadaan ini. Apa boleh buat, dia tetap memasuki gudang, mengambil senjata untuk membantu rakyat.
Setelah selesai menumpas perampok, sang adik menghadap kakaknya, mengahaturkan maaf. Sang kakak memaklumi dan membenarkan alasan kepentingan yang dihadapi adiknya, memaafkan. Sang adik yang sudah mengakui kesalahannya siap menerima hukuman, namun sang kakak tidak mau memberikan hukuman.
Menghadapi hal ini, Raden Permadi kemudian pamit pergi bertapa, mawas diri serta mencari jalan bagaimana agar tidak terjadi kesalahan yang terulang. Dia menghukum dirinya sendiri.
Itulah sekelumit kisah lama. Suri teladan yang terkandung perlu kita renungkan dan ambil hikmahnya.
Pada saat ini, banyak orang yang sulit untuk mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, apalagi kalau ditegur oleh orang banyak. <!--more-->
Demi gengsi dan harga diri, dia berusaha untuk memebersihkan diri, mencari alibi dengan menunjukkan bahwa kesalahan bukan pada dirinya, namun pada pihak lain.
Kalaupun tidak ada orang yang pantas disalahkan, dia akan menyalahkan keadaan dan kondisi yang ada.
Apakah kita tidak ada usaha untuk memperbaiki paradigma baru yang masih tidak disepakati oleh orang yang punya hati nurani ?
Sudah merupakan suatu kewajiban hidup bahwa kita melaksanakan aktivitas. Mulai dari aktivitas dalam rumah kita sendiri, dalam lingkungan kampung, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dalam lingkup negara maupun secara global, mendunia !
Kita punya kewajiban untuk menciptakan suasana yang tentram, menyenangkan dan penuh tenggang rasa dalam masyarakat.
Sebagian besar dari kita mendapatkan ajaran moral yang merupakan motivasi untuk hidup layak, sejahtera lahir batin dan meciptakan keselarasan dengan lingkungan manusia, binatang serta alam sekitar.
Suatu ekosistem bahwa kita hidup saling memerlukan dengan berbagai binatang, lingkungan dan alam. Romantika kehidupan menimbulkan bebagai masalah.
Kalau ada binatang kerbau, kuda, anjing, kucing dls yang bisa bersahabat dengan kita, da juga yang menjadi ancaman, seperti harimau, buaya, kalajengking, tikus dls.
Dengan akal sehat, kita berusaha menjadi saling membutuhkan dengan yang merugikan bagi kita, agar dapat dimanfaatkan.
Pada saat ini, saling memanfaatkan sesuai dengan “hukum alam” sudah berubah. Suatu paradigma baru yang ”valid” sudah terbentuk sesuai dengan proses kehidupan.
Kerbau, kuda, anjing, kucing dls bisa disembelih untuk dikonsumsi dagingnya, sementara harimau, buaya, kalajengking, tikus dls dijadikan binatang peliharaan, berarti mernjadi sahabat manusia.
Aliran sungai sudah tidak lagi memerlukan selokan, karena jalan raya sudah mempunyai dwi fungsi, tempat berlalu lalangnya kendaraan yang berisi manusia dengan segala keperluannya dan tempat belalunya air di kala hujan. Selokan sudah tidak mampu menampung air, sebagian air sudah melalui jalan raya baik di kota maupun di desa.
Kalau semasa “normal” wilayah pegunungan tidak pernah ada banjir, maka pada abad ke 21 ini tersebutlah banjir melanda wilayah Ungaran, Parakan serta beberapa wilayah pegunungan.
Terdorong rasa kemanusiaan yang mendalam, apalagi mentaati posisinya sebagai penjaga ketentraman, Raden Permadi tanpa pikir masuk ke gudang senjata, mengambil panah sebagai sarana untuk menghadapi pengacau.
Betapa terkejutnya dia, karena didapati kakaknya, Raden Yudisthira sedang memadu kasih dengan Dewi Drupadi. Suatu tindakan tidak sopan bagi adik untuk menyaksikan keadaan ini. Apa boleh buat, dia tetap memasuki gudang, mengambil senjata untuk membantu rakyat.
Setelah selesai menumpas perampok, sang adik menghadap kakaknya, mengahaturkan maaf. Sang kakak memaklumi dan membenarkan alasan kepentingan yang dihadapi adiknya, memaafkan. Sang adik yang sudah mengakui kesalahannya siap menerima hukuman, namun sang kakak tidak mau memberikan hukuman.
Menghadapi hal ini, Raden Permadi kemudian pamit pergi bertapa, mawas diri serta mencari jalan bagaimana agar tidak terjadi kesalahan yang terulang. Dia menghukum dirinya sendiri.
Itulah sekelumit kisah lama. Suri teladan yang terkandung perlu kita renungkan dan ambil hikmahnya.
Pada saat ini, banyak orang yang sulit untuk mengakui kesalahan yang pernah dilakukan, apalagi kalau ditegur oleh orang banyak. <!--more-->
Demi gengsi dan harga diri, dia berusaha untuk memebersihkan diri, mencari alibi dengan menunjukkan bahwa kesalahan bukan pada dirinya, namun pada pihak lain.
Kalaupun tidak ada orang yang pantas disalahkan, dia akan menyalahkan keadaan dan kondisi yang ada.
Apakah kita tidak ada usaha untuk memperbaiki paradigma baru yang masih tidak disepakati oleh orang yang punya hati nurani ?
Sudah merupakan suatu kewajiban hidup bahwa kita melaksanakan aktivitas. Mulai dari aktivitas dalam rumah kita sendiri, dalam lingkungan kampung, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dalam lingkup negara maupun secara global, mendunia !
Kita punya kewajiban untuk menciptakan suasana yang tentram, menyenangkan dan penuh tenggang rasa dalam masyarakat.
Sebagian besar dari kita mendapatkan ajaran moral yang merupakan motivasi untuk hidup layak, sejahtera lahir batin dan meciptakan keselarasan dengan lingkungan manusia, binatang serta alam sekitar.
Suatu ekosistem bahwa kita hidup saling memerlukan dengan berbagai binatang, lingkungan dan alam. Romantika kehidupan menimbulkan bebagai masalah.
Kalau ada binatang kerbau, kuda, anjing, kucing dls yang bisa bersahabat dengan kita, da juga yang menjadi ancaman, seperti harimau, buaya, kalajengking, tikus dls.
Dengan akal sehat, kita berusaha menjadi saling membutuhkan dengan yang merugikan bagi kita, agar dapat dimanfaatkan.
Pada saat ini, saling memanfaatkan sesuai dengan “hukum alam” sudah berubah. Suatu paradigma baru yang ”valid” sudah terbentuk sesuai dengan proses kehidupan.
Kerbau, kuda, anjing, kucing dls bisa disembelih untuk dikonsumsi dagingnya, sementara harimau, buaya, kalajengking, tikus dls dijadikan binatang peliharaan, berarti mernjadi sahabat manusia.
Aliran sungai sudah tidak lagi memerlukan selokan, karena jalan raya sudah mempunyai dwi fungsi, tempat berlalu lalangnya kendaraan yang berisi manusia dengan segala keperluannya dan tempat belalunya air di kala hujan. Selokan sudah tidak mampu menampung air, sebagian air sudah melalui jalan raya baik di kota maupun di desa.
Kalau semasa “normal” wilayah pegunungan tidak pernah ada banjir, maka pada abad ke 21 ini tersebutlah banjir melanda wilayah Ungaran, Parakan serta beberapa wilayah pegunungan.
Dalam keadaan yang demikian, pada masa kini kita hidup, marilah kita mencari kesalahan pada diri kita sendiri.
Sudah layakkah kita hidup sebagai manusia yang punya cipta, rasa dan karsa ? Sudah benarkah kita bertindak sehingga kita tidak menyalahi norma susila maupun norma agama ? Sudah benarkah kita memelihara lingkungan dengan sesama manusia, binatang serta dengan alam ?
Sudah sanggupkah kita dengan potensi kecil yang kita miliki tidak membuang sampah sembarangan sehingga selokan tidak tersumbat ?
Sudahkah kita berani mengakui kesalahan yang kita perbuat dan memutuskan untuk menghukum diri kita sendiri agar masyarakat sekitar kita menjadi trentram dan damai ?
Mulai dari saat ini, hari ini seyogyangyalah kita menyadari bahwa diri kita masing-masing mempunyai potensi untuk memperbaiki keadaan menyedihkan yang kita alami.
Dengan penuh kerendahan hati, kita coba mengingat ajaran moral yang diajarkan ayah ibu kita. Sedikit apapun pesan beliau, diamanatkan pada kita untuk dilaksanakan.
Dengan penuh kekuatan nurani, kita bertekad untuk mempraktekkan ajaran agama yang penuh dengan nuansa perdamaian, pengorbanan serta perjuangan untuk sesama manusia.
Marilah kita bertekad (bukannya cuma nekad) untuk membuat diri kita lebih baik, menjauhkan semua perbuatan tercela untuk mengganti dengan perbuatan terpuji.
Kita dipuji tetap jangan sombong. Ingatlah ilmu padi, makin berisi makin tunduk.
Kita bertekad untuk memperbaiki diri sendiri, sekaligus akan memperbaiki Indonesia. Tidak usah ada rasa iri kalau orang lain tidak melakukan, tapi bertekadlah untuk melakukan.
BRLARILAH JIKA INGIN SUKSES
GLENN CUNNINGHAM berumur
delapan tahun ketika ia mengalami kecelakaan. Ia dan kakaknya Floyd sedang
menyalakan tungku pemanas sekolah ketika tiba-tiba tungku tersebut meledak dan
menewaskan Floyd. Glenn sedang berada di pintu sehingga ia selamat, tapi ketika
menyadari bahwa Floyd masih di dalam, Glenn berlari masuk untuk
menyelamatkannya. Ia gagal, bahkan kedua kakinya terbakar hebat. Kedua kakinya
menjadi lumpuh dan tidak bisa merasakan apapun. Dokter menyarankan agar kedua kakinya
diamputasi, tapi sambil menangis Glenn memohon agar kakinya tidak
dipotong. Orang tuanya tidak tega dan menuruti keinginannya sehingga kakinya
selamat dari amputasi. Dalam hatinya, Glenn yakin suatu saat ia akan dapat
berjalan lagi. Kedua kaki Glenn bengkok dan semua jari kaki kirinya hilang.
Setelah perban dibuka, kedua orang tuanya bergiliran mengurut kakinya setiap
hari meskipun hampir tak ada perubahan. Tapi beberapa bulan kemudian
Glenn mencoba berdiri dan berjalan dengan dibantu oleh ayahnya. Kakinya
tetap diurut setiap hari dan kemudian Glenn Cunningham yang tadinya kata dokter
'tidak mungkin dapat berjalan lagi' kini bisa berjalan. Glenn masih merasa kakinya lemah sehingga ia ingin
menguatkan kakinya. Ia mulai berlari pada setiap kesempatan. Ia berlari ke
sekolah, ia berlari ketika mengikuti paduan suara, ia berlari ke toko daging,
ia berlari di lapangan, ia berlari mencari kayu bakar dan berlari pulang dengan
kedua tangan penuh kayu. Ia tidak pernah berjalan apabila ia bisa berlari. Lima
tahun kemudian, ketika berumur 13 tahun, ia memenangkan gelar juara lari di
Morton County Fair. Sejak itu ia semakin sering mengikuti kejuaraan lari dan
selalu berhasil menjadi pemenang. Glenn Cunningham menjadi juara lari bukan
karena kakinya kuat, bahkan kaki itu pernah hampir dibuang. Glenn menjadi juara karena ia berlari pada saat semua
orang berjalan.<!--more-->
MELISA sebenarnya senang berolah raga, terutama bela diri. Ketika ia bertemu pelatih yang sangat baik, ia rajin berlatih. Seumur hidupnya ia tidak pernah bisa melakukan split dengan salah satu kaki di depan yang yang lain di belakang. Dengan usia yang sudah hampir mencapai empat puluh tahun, ia merasa sudah terlalu tua dan tak mungkin bisa melakukan split. Tapi ia tetap rajin berlatih. Tanpa disadarinya pada suatu hari ia tiba-tiba bisa split. Dalam keheranannya ia cuma bisa bengong melihat dirinya split. Gurunya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia mampu melakukannya karena ia terus berlatih. Usia ternyata bukan halangan. Ia tidak santai berjalan, tapi ia berlari.
NANA merasa sangat
beruntung ketika diterima bekerja di sebuah supermarket.Tapi kemudian ia merasa
cepat lelah. Ia harus berdiri berjam-jam setiapMELISA sebenarnya senang berolah raga, terutama bela diri. Ketika ia bertemu pelatih yang sangat baik, ia rajin berlatih. Seumur hidupnya ia tidak pernah bisa melakukan split dengan salah satu kaki di depan yang yang lain di belakang. Dengan usia yang sudah hampir mencapai empat puluh tahun, ia merasa sudah terlalu tua dan tak mungkin bisa melakukan split. Tapi ia tetap rajin berlatih. Tanpa disadarinya pada suatu hari ia tiba-tiba bisa split. Dalam keheranannya ia cuma bisa bengong melihat dirinya split. Gurunya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia mampu melakukannya karena ia terus berlatih. Usia ternyata bukan halangan. Ia tidak santai berjalan, tapi ia berlari.
hari. Setiap pulang kerja kakinya terasa sakit dan kaku. Ia mulai sering menggerutu. Tak lama kemudian ia mulai sering terlambat datang. Karena merasa tidak suka dengan pekerjaannya, ia merasa tertekan. Ia jadi kurang suka makan sehingga badannya semakin kurus. Pada saat yang bersamaan rekannya Mila dan Sapto tetap bekerja dengan baik. Bahkan Mila sangat rajin. Ia datang paling pagi, ia rajin berkeliling untuk mengecek barang dan kebersihan. Ia tidak pernah menggerutu. Kalau ditanya apakah ia tidak merasa lelah, ia hanya tersenyum dan menjawab: "Ya, tentu saja". Herannya, Mila tetap rajin. Mila menghormati penyelianya dan banyak menggali ilmu darinya. Pada saat Nana merasa rendah diri untuk berkomunikasi dengan atasannya dan memilih menghindarinya, Mila justru sering meminta nasehatnya atau mengajak atasannya bertukar pikiran. Di saat Nana malas dan duduk bersembunyi di pojok, Mila rajin berkeliling membantu para pelanggan dan menyapa mereka dengan ramah. Tanpa disadari Mila semakin matang, caranya berkomunikasinya juga semakin baik. Ia tidak merasa rendah diri lagi pada saat berhadapan dengan orang lain. Wajahnya memancarkan semangat dan keramahan yang membuat orang lain semakin menyukainya. Pada saat Nana hanya berjalan, Mila berlari.
KISAH SI PENEBANG POHON
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan
menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah
ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu”. Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi. <!--more--> |
KISAH SI PENEBANG POHON Sang majikan menyimak dan bertanya
kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah
kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga”. Kata si penebang.
“Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih
jauh lagi
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru !
KISAH 2 PEKERJAAN
Alkisah terdapat dua buah
kerajaan kecil yang saling bertetangga dan bersahabat. Kedua kerajaan cukup
makmur dan dipimpin oleh raja-raja yang bijaksana.
Namun demikian, raja dari negara yang pertama selalu memerintahkan perdana menterinya untuk membuat isu-isu di kerajaannya yang selalu membuat rakyatnya menjadi gusar.
Pernah suatu kali raja mengisukan bahwa kerajaannya akan terancam kekeringan panjang sehingga rakyatnya terpaksa bekerja keras untuk menanam dan mengumpulkan bahan pangan dalam jumlah besar.
Di lain waktu, sang raja mengisukan bahwa kerajaannya akan diserang oleh kerajaan besar dengan tentara yang cukup kuat sehingga rakyat diminta untuk ikut wajib militer.
Di lain waktu lagi, raja mengisukan bahwa kas kerajaan mengalami kebangkrutan sehingga rakyatnya berusaha keras untuk menyumbangkan sebagian harta pribadi untuk kerajaan.
Pada malam perayaan tahun baru, raja mengisukan ada banyak maling berkeliaran sehingga rakyat tetap waspada di tengah perayaan.
Demikianlah, tahun demi tahun, walaupun negara tersebut makmur, tapi rakyatnya tidak pernah benar-benar merasakan kemakmuran dan ketenangan dalam hidup.
Sebaliknya, raja dari negara kedua yang cukup bijak, selalu membagi-bagikan pangan, kelebihan kas negara, dan merayakan tahun baru dengan meriah sehingga rakyatnya benar-benar gembira dan hidup dalam suasana serba berkecukupan.
Suatu kali, raja dari negara kedua berkunjung ke negara pertama. Melihat isu-isu yang dilontarkan raja pertama kepada rakyatnya, maka bertanyalah raja kedua sambil kebingungan, "Negaramu sudah makmur, mengapa kau selalu membuat isu yang sebenarnya tidak terjadi, sehingga rakyatmu gusar dan tidak bisa menikmati kemakmuran yang ada?"
Raja pertama menjawab, "Kemakmuran dan suasana yang selalu gembira akan membuat rakyatku lengah, maka sekali-kali aku membuat mereka gusar, sehingga tanpa sadar mereka terlatih untuk tetap waspada dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk berbakti pada negaranya."
Mendengar hal ini raja kedua hanya tertawa dan menggelengkan kepala, "Ada-ada saja", katanya.
Beberapa bulan setelah kunjungan tadi, kedua wilayah kerajaan yang saling berdekatan ini benar-benar terancam kekeringan. Melihat kesempatan ini, orang-orang barbar menyerang mereka.
Rakyat di kerajaan kedua benar-benar terkejut, mereka yang sudah dalam kondisi kurang pangan akibat kekeringan, lari meninggalkan kerajaannya, karena tak tahan lagi jika harus menghadapi serangan dari bangsa barbar.
Sebaliknya, rakyat di kerajaan pertama, karena sudah terbiasa hidup dalam suasana sulit, tetap waspada, bahkan banyak di antara mereka secara suka rela bergabung menjadi tentara. Bencana kekeringan tidak menyurutkan semangat juang mereka. Maka, kerajaan pertama dapat menghalau serangan bangsa barbar, bahkan membantu kerajaan tetangganya untuk bertahan.
Setelah perang berakhir, sekali lagi raja dari negara kedua berkunjung. Dia berkata, "Sekarang aku mengerti mengapa kadang-kadang kau mengisukan hal-hal yang membuat rakyatmu gelisah."
Mendengar ini, raja pertama tertawa dan berkata, "Sahabatku, bukankah tanah liat yang buruk rupa tapi jika dibentuk, dibakar, dan dihias, akan menjadi keramik yang indah? Seseorang yang sudah terbiasa ditempa hidupnya, akan memiliki semangat juang yang tinggi dan mampu bertahan."
Dari cerita ini, dapat kita lihat, bahwa seseorang yang sudah terbiasa mengalami kesulitan akan lebih kreatif dan mampu "survive" dalam kehidupan.
Seorang supir yang sering terjebak dalam kemacetan, akan berusaha untuk mencari "jalan tikus" yang membuatnya lebih kreatif dan lebih mengetahui seluk beluk jalanan.
Oleh karenanya, saat menghadapi tempaan hidup, jangan putus asa, tetap berusaha, karena setelah tempaan dan cobaan berlalu, diri kita akan menjadi "produk" yang lebih baik lagi.
Namun demikian, raja dari negara yang pertama selalu memerintahkan perdana menterinya untuk membuat isu-isu di kerajaannya yang selalu membuat rakyatnya menjadi gusar.
Pernah suatu kali raja mengisukan bahwa kerajaannya akan terancam kekeringan panjang sehingga rakyatnya terpaksa bekerja keras untuk menanam dan mengumpulkan bahan pangan dalam jumlah besar.
Di lain waktu, sang raja mengisukan bahwa kerajaannya akan diserang oleh kerajaan besar dengan tentara yang cukup kuat sehingga rakyat diminta untuk ikut wajib militer.
Di lain waktu lagi, raja mengisukan bahwa kas kerajaan mengalami kebangkrutan sehingga rakyatnya berusaha keras untuk menyumbangkan sebagian harta pribadi untuk kerajaan.
Pada malam perayaan tahun baru, raja mengisukan ada banyak maling berkeliaran sehingga rakyat tetap waspada di tengah perayaan.
Demikianlah, tahun demi tahun, walaupun negara tersebut makmur, tapi rakyatnya tidak pernah benar-benar merasakan kemakmuran dan ketenangan dalam hidup.
Sebaliknya, raja dari negara kedua yang cukup bijak, selalu membagi-bagikan pangan, kelebihan kas negara, dan merayakan tahun baru dengan meriah sehingga rakyatnya benar-benar gembira dan hidup dalam suasana serba berkecukupan.
Suatu kali, raja dari negara kedua berkunjung ke negara pertama. Melihat isu-isu yang dilontarkan raja pertama kepada rakyatnya, maka bertanyalah raja kedua sambil kebingungan, "Negaramu sudah makmur, mengapa kau selalu membuat isu yang sebenarnya tidak terjadi, sehingga rakyatmu gusar dan tidak bisa menikmati kemakmuran yang ada?"
Raja pertama menjawab, "Kemakmuran dan suasana yang selalu gembira akan membuat rakyatku lengah, maka sekali-kali aku membuat mereka gusar, sehingga tanpa sadar mereka terlatih untuk tetap waspada dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk berbakti pada negaranya."
Mendengar hal ini raja kedua hanya tertawa dan menggelengkan kepala, "Ada-ada saja", katanya.
Beberapa bulan setelah kunjungan tadi, kedua wilayah kerajaan yang saling berdekatan ini benar-benar terancam kekeringan. Melihat kesempatan ini, orang-orang barbar menyerang mereka.
Rakyat di kerajaan kedua benar-benar terkejut, mereka yang sudah dalam kondisi kurang pangan akibat kekeringan, lari meninggalkan kerajaannya, karena tak tahan lagi jika harus menghadapi serangan dari bangsa barbar.
Sebaliknya, rakyat di kerajaan pertama, karena sudah terbiasa hidup dalam suasana sulit, tetap waspada, bahkan banyak di antara mereka secara suka rela bergabung menjadi tentara. Bencana kekeringan tidak menyurutkan semangat juang mereka. Maka, kerajaan pertama dapat menghalau serangan bangsa barbar, bahkan membantu kerajaan tetangganya untuk bertahan.
Setelah perang berakhir, sekali lagi raja dari negara kedua berkunjung. Dia berkata, "Sekarang aku mengerti mengapa kadang-kadang kau mengisukan hal-hal yang membuat rakyatmu gelisah."
Mendengar ini, raja pertama tertawa dan berkata, "Sahabatku, bukankah tanah liat yang buruk rupa tapi jika dibentuk, dibakar, dan dihias, akan menjadi keramik yang indah? Seseorang yang sudah terbiasa ditempa hidupnya, akan memiliki semangat juang yang tinggi dan mampu bertahan."
Dari cerita ini, dapat kita lihat, bahwa seseorang yang sudah terbiasa mengalami kesulitan akan lebih kreatif dan mampu "survive" dalam kehidupan.
Seorang supir yang sering terjebak dalam kemacetan, akan berusaha untuk mencari "jalan tikus" yang membuatnya lebih kreatif dan lebih mengetahui seluk beluk jalanan.
Oleh karenanya, saat menghadapi tempaan hidup, jangan putus asa, tetap berusaha, karena setelah tempaan dan cobaan berlalu, diri kita akan menjadi "produk" yang lebih baik lagi.
SEMUT DAN RODA PEDATI
Suatu ketika, sekelompok
semut sedang berjalan menuju roda pedati yang ada di depan. Seekor semut
berseru "Hai teman-teman, bagaimana kalau kita menaiki roda pedati
itu?" Lalu semut yang lainnya berkata "Jangan!! Nanti kita akan terbawa
dan jika kita naiki,kita akan celaka". Lalu semut yang pertama tetap saja menaiki roda pedati
itu.
Setelah
semut itu menaiki roda pedatinya, tiba-tiba roda pedati itu berjalan. Entah
kemana pedatinya akan membawa semut itu. Pada saat semut itu beranjak ke atas,
semut itu berseru kepada kelompok semut yang lainnya "Hahaha..kalian
payah. Aku sudah berada di roda pedati. Dan aku akan berada diatas
nantinya". Dengan kesombongan dirinya, semut itu selalu mengejek
teman-temannya yang ada di bawahnya.
Semakin lama roda itu berputar ke atas. Setelah semut itu berada diatas,
tiba-tiba rodanya berhenti. Semut itu semakin merasa bahwa dia itu menjadi pemimpin dari semut lain. Dan semakin sombong semut itu. Dan berkata "Aku
sekarang sudah ada diatas. Aku menjadi orang yang hebat. Kalian semua
payah".
Karena
terlena dengan keberadaannya di atas roda pedati yang paling tinggi. Semut itu
tidak berhati-hati. Lalu, tiba-tiba roda pedati itu mulai bergerak lagi. Semut
itu tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Dan semut itu langsung terjatuh
ke bawah. Lalu terlindas oleh roda pedati itu.
Begitu
pula dengan kehidupan kita. Hidup kita seperti semut-semut itu. Banyak dari
kita yang dari awal merangkak naik menjadi seorang yang sukses. Tapi tiba-tiba
karena terlena dengan kesuksesannya, kita menjadi seorang yang tidak tanggap
terhadap hambatan yang kita hadapi. Seperti semut yang jatuh dari roda pedati.
Seperti itulah hidup kita apabila terlalu sombong, angkuh. Apabila tidak
berhati-hati. "Jurang" lah yang akan kita hadapi..
Salam Sukses!!
KISAH 2 ORANG JENIUS
Ini kisah perbandingan 2 orang yang berkontribusi buat manusia. Thomas Edison (1847-1931) dan Nikola Tesla (1856-1943). Keduanya hidup di zaman yang sama.
Tentunya sudah nggak ada yang nggak kenal
Edison dengan berbagai macam paten dan ciptaannya, terutama bohlam. Bahkan
menurut Wikipedia, dia punya 1093 paten atas namanya.Sedangkan Tesla juga bukan
orang sembarangan. Walaupun lahir 9 tahun lebih muda dibandingkan Edison,
pengaruh karena penemuannya luar biasa. Kelahiran Serbia ini bahkan namanya
diabadikan jadi satuan untuk medan magnet. Untuk yang mengerti tentang listrik
dan teknik elektro, tentunya nggak asing dengan arus bolak-balik (AC). Dia yang
pertama kali mengembangkan ide itu. Sedangkan untuk power engineering,
kontribusinya ada dalam polyphase transmission system. Kontribusinya bukan cuma
di situ. Tapi juga di bidang robotics, nuclear physics, theoretical physics,
juga di computer science. Menurut Wikipedia pula, dia dianggap sebagai
America’s greatest electrical engineer.
Lalu, siapa yang lebih jenius? Edison atau Tesla?
Mari kita bandingkan sedikit lebih jauh. Edison nggak lulus SD, sedangkan Tesla lulusan pasca sarjana di bidang physics dari University of Prague. Dia juga mendapatkan honorary doctoral degrees dari setidaknya 13 universitas berbeda. Salah satunya Yale University.
Dikisahkan, dalam menemukan komponen yang tepat buat filamen bohlamnya, Edison sampai mencoba 60.000 kali percobaan dengan material-material yang berbeda. Bahkan ada kisah bahwa suatu kali saking stresnya, dia mencoba melinting daun dan ditaburi serbuk grafit yang bersifat konduktor. Apa yang terjadi? Yang terjadi malah ledakan yang menghancurkan labnya. Jadi, bisa dikatakan kalau sebenarnya Edison menggunakan brute force dalam percobaannya. Kalau saja dia dulu mengerti tentang ilmu material, mungkin jumlah percobaan gagalnya bisa dikurangi sampai ratusan kali lebih sedikit. Sedangkan Tesla dikisahkan hanya butuh sekali percobaan sampai dia bisa mendapatkan temuannya berupa arus bolak-balik (AC).
Lalu, di discovery channel juga pernah diceritakan tentang kejeniusan Tesla. Dia rupanya dulu pernah menemukan sebuah cara untuk mentransmisikan listrik tanpa kabel. Tapi dia khawatir bahwa temuannya itu bisa disalahgunakan untuk kepentingan perang. Makanya dia membakar semua temuan beserta berkas-berkasnya saat itu. Bayangkan saja kalau seandainya temuannya dia itu dulu dipublikasikan. Bisa jadi kita sekarang melihat perkembangan dan revolusi luar biasa di dunia electrical engineering. Dia juga konon menemukan cara untuk membunuh orang dengan suara. Tapi penemuan itu juga dimusnahkan dengan alasan yang sama.
Lalu, siapa yang lebih jenius? Edison atau Tesla?
Mari kita bandingkan sedikit lebih jauh. Edison nggak lulus SD, sedangkan Tesla lulusan pasca sarjana di bidang physics dari University of Prague. Dia juga mendapatkan honorary doctoral degrees dari setidaknya 13 universitas berbeda. Salah satunya Yale University.
Dikisahkan, dalam menemukan komponen yang tepat buat filamen bohlamnya, Edison sampai mencoba 60.000 kali percobaan dengan material-material yang berbeda. Bahkan ada kisah bahwa suatu kali saking stresnya, dia mencoba melinting daun dan ditaburi serbuk grafit yang bersifat konduktor. Apa yang terjadi? Yang terjadi malah ledakan yang menghancurkan labnya. Jadi, bisa dikatakan kalau sebenarnya Edison menggunakan brute force dalam percobaannya. Kalau saja dia dulu mengerti tentang ilmu material, mungkin jumlah percobaan gagalnya bisa dikurangi sampai ratusan kali lebih sedikit. Sedangkan Tesla dikisahkan hanya butuh sekali percobaan sampai dia bisa mendapatkan temuannya berupa arus bolak-balik (AC).
Lalu, di discovery channel juga pernah diceritakan tentang kejeniusan Tesla. Dia rupanya dulu pernah menemukan sebuah cara untuk mentransmisikan listrik tanpa kabel. Tapi dia khawatir bahwa temuannya itu bisa disalahgunakan untuk kepentingan perang. Makanya dia membakar semua temuan beserta berkas-berkasnya saat itu. Bayangkan saja kalau seandainya temuannya dia itu dulu dipublikasikan. Bisa jadi kita sekarang melihat perkembangan dan revolusi luar biasa di dunia electrical engineering. Dia juga konon menemukan cara untuk membunuh orang dengan suara. Tapi penemuan itu juga dimusnahkan dengan alasan yang sama.
Jadi, siapa yang
lebih jenius?
Nanti dulu. Ada
fakta yang menarik bahwa saat itu Tesla bekerja di perusahaan milik Edison,
Edison Machine Works. Tesla hanya digaji $10 per minggu. Sedangkan setiap ada
paten, uang yang selalu mampir ke kantong Edison ada di kisaran $30,000.
Fakta menarik
lainnya adalah legenda “war of currents” yang terjadi saat itu yang mengacu
pada 2 konsep transmisi listrik, AC dan DC. Yang AC diusung oleh Tesla,
sedangkan DC oleh Edison. Mereka berbeda pendapat soal mana yang lebih efisien
dalam power transmission. Di kemudian hari, ternyata memang terbukti AC jauh
lebih bisa melakukannya dengan efisien. Apalagi kalau menggunakan teknik
3-phase yang juga dikembangkan oleh Tesla. Tapi saat itu, Edison berhasil
melakukan propaganda ke masyarakat dengan menyebarkan bukti bahwa AC bahaya dan
mematikan. Memang untuk sesaat DC menjadi favorit saat itu, tetapi sejarah
membuktikan bahwa akhirnya AC yang menjadi standar internasional untuk power
transmission. Konon gara-gara perseteruan itulah Tesla didepak dari perusahaan
Edison. Sekitar tahun 1916, Tesla bangkrut karena tumpukan pajaknya. Ia
meninggal pada 1946 dalam kemiskinan dan dengan utangnya yang menggunung.
Sedangkan Edison saat hidupnya bisa membeli rumah di atas area 5,5 hektar di
New Jersey hanya sekedar untuk hadiah pernikahan dengan istri keduanya.
Jadi, siapa yang
lebih jenius?
SEDIH DAN KECEWA
Rasa sedih, kecewa, demotivasi memang bisa menimpa siapa saja. Begitu pula
saya. Saya, yang pernah beberapa kali memberikan training motivasi untuk
rekan-rekan saya di kantor, ternyata kena tulahnya juga. Selama ini saya
menganggap diri saya, tanpa bermaksud menyombong, adalah orang yang positif -
setidaknya saya selalu berusaha untuk berpikir positif. Tapi baru-baru ini
suatu perubahan besar terjadi di organisasi tempat saya bekerja yang
menempatkan saya pada posisi yang tidak ideal. Hal ini membuat saya kecewa dan
sempat demotivasi. Saya merasa apa yang selama ini telah saya perjuangkan dan
saya rintis sisa-sia saja. Saya sempat, lho, kehilangan motivasi.
Tapi ada benarnya bila dikatakan motivasi itu seperti iman, turun naik. Dan semua itu tergantung si individu bagaimana untuk mengatasinya. Karena hanya si individu itu sendirilah yang bisa memberikan motivasi untuk dirinya, orang lain hanyalah sebagai sarana. Saya suka sekali akan konsep dimana setiap pagi saat bangun tidur kita mengharuskan diri kita sendiri untuk memilih apakah kita ingin bahagia atau sedih hari itu. Tentu saja orang yang berpikiran positif, tanpa ragu, akan memilih untuk bahagia.
Jadi kesimpulannya adalah semua tergantung dari PILIHAN kita. Bagaimana kita ingin menjalani hidup ini. Stress, kecewa, sedih, demotivasi boleh-boleh saja, karena itu adalah hal yang manusiawi. Namun jangan berlarut-larut atau berkelanjutan. Begitu perasaan negatif tersebut datang pada kita, kita harus cepat-cepat berkata STOP. Jangan mau dikuasai olehnya. Seperti kata pepatah, hidup ini terlalu singkat - oleh sebab itu jangan habiskan waktu anda dengan bersedih. Bergembiralah. Lepaskan beban. Cari sarana pelepasan. Bila anda punya hobby, itu akan sangat membantu mengalihkan pikiran negatif kita menjadi satu hal yang positif ataupun kreatif. Beberapa seniman besar seperti Wolfgang, Dante, Vincent adalah merupakan contoh orang-orang yang berhasil mengalihkan pikiran negatif mereka ke karya-karya seni yang indah dan tak lekang oleh zaman.
Salah satu kiat saya untuk selalu berpikir positif adalah dengan banyak membaca buku mengenai motivasi. Dari situ kita banyak belajar mengenai cara menanggulangi permasalahan baik dalam pekerjaan ataupun dalam hidup. Memberikan training motivasi juga seperti mengingatkan saya kembali akan nilai-nilai positif yang saya yakini. Malu, kan, bila kita yang biasa memberikan training mengenai motivasi ternyata tidak dapat memotivasi diri sendiri.
Nah, bagaimana bila kita menemui kegagalan? Beri waktu pada diri anda untuk kecewa, tapi jangan lama-lama. Langsung bangkitkan kembali motivasi kita. Pelajari apa penyebab kegagalan itu bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya. Kalau perlu anda istirahat sebentar sebelum mencoba lagi.
Saya merasa diri saya adalah seorang yang optimis, tapi semua itu tidak datang tiba-tiba. Terus terang saja, optimis sebenarnya bukanlah sifat dasar saya. Kalau saya biarkan diri saya, saya sebenarnya orang yang pemurung dan mudah putus asa. Tapi saya tidak mau dikuasai oleh sifat tersebut. Sedikit demi sedikit saya berusaha berevolusi - dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Setiap saya terbentur masalah, hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana saya mengatasinya. Peluang apa yang bisa saya dapatkan untuk bisa keluar dari masalah tersebut. Saya tidak membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri. Saya pernah seperti itu dan saya tidak mau kembali lagi. Dan satu hal lagi yang saya pelajari baru-baru ini (tidak ada kata terlambat untuk belajar) adalah untuk tidak mendengarkan kata-kata negatif dari orang lain. Saya tidak mau diri saya diatur oleh apa yang orang pikir tentang saya karena mereka tidak kenal saya seperti saya mengenal diri saya sendiri.
Hal lain yang ingin saya pelajari adalah menjadi asertif. Seperti umumnya orang timur, saya sering merasa pekeweuh bila harus bersikap asertif, berani menuntut atau meminta hak kita. Apalagi saya orang Jawa. Aduh banyak, deh, aturan yang mengharuskan diri kita untuk menjadi orang yang berani nerimo, sabar dan tidak banyak menuntut. Terus terang saya belum bisa 100% merasa asertif dalam artian positif. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mencoba. Bagaimana dengan anda?
Tapi ada benarnya bila dikatakan motivasi itu seperti iman, turun naik. Dan semua itu tergantung si individu bagaimana untuk mengatasinya. Karena hanya si individu itu sendirilah yang bisa memberikan motivasi untuk dirinya, orang lain hanyalah sebagai sarana. Saya suka sekali akan konsep dimana setiap pagi saat bangun tidur kita mengharuskan diri kita sendiri untuk memilih apakah kita ingin bahagia atau sedih hari itu. Tentu saja orang yang berpikiran positif, tanpa ragu, akan memilih untuk bahagia.
Jadi kesimpulannya adalah semua tergantung dari PILIHAN kita. Bagaimana kita ingin menjalani hidup ini. Stress, kecewa, sedih, demotivasi boleh-boleh saja, karena itu adalah hal yang manusiawi. Namun jangan berlarut-larut atau berkelanjutan. Begitu perasaan negatif tersebut datang pada kita, kita harus cepat-cepat berkata STOP. Jangan mau dikuasai olehnya. Seperti kata pepatah, hidup ini terlalu singkat - oleh sebab itu jangan habiskan waktu anda dengan bersedih. Bergembiralah. Lepaskan beban. Cari sarana pelepasan. Bila anda punya hobby, itu akan sangat membantu mengalihkan pikiran negatif kita menjadi satu hal yang positif ataupun kreatif. Beberapa seniman besar seperti Wolfgang, Dante, Vincent adalah merupakan contoh orang-orang yang berhasil mengalihkan pikiran negatif mereka ke karya-karya seni yang indah dan tak lekang oleh zaman.
Salah satu kiat saya untuk selalu berpikir positif adalah dengan banyak membaca buku mengenai motivasi. Dari situ kita banyak belajar mengenai cara menanggulangi permasalahan baik dalam pekerjaan ataupun dalam hidup. Memberikan training motivasi juga seperti mengingatkan saya kembali akan nilai-nilai positif yang saya yakini. Malu, kan, bila kita yang biasa memberikan training mengenai motivasi ternyata tidak dapat memotivasi diri sendiri.
Nah, bagaimana bila kita menemui kegagalan? Beri waktu pada diri anda untuk kecewa, tapi jangan lama-lama. Langsung bangkitkan kembali motivasi kita. Pelajari apa penyebab kegagalan itu bisa terjadi dan bagaimana mengatasinya. Kalau perlu anda istirahat sebentar sebelum mencoba lagi.
Saya merasa diri saya adalah seorang yang optimis, tapi semua itu tidak datang tiba-tiba. Terus terang saja, optimis sebenarnya bukanlah sifat dasar saya. Kalau saya biarkan diri saya, saya sebenarnya orang yang pemurung dan mudah putus asa. Tapi saya tidak mau dikuasai oleh sifat tersebut. Sedikit demi sedikit saya berusaha berevolusi - dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Setiap saya terbentur masalah, hal pertama yang saya pikirkan adalah bagaimana saya mengatasinya. Peluang apa yang bisa saya dapatkan untuk bisa keluar dari masalah tersebut. Saya tidak membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri. Saya pernah seperti itu dan saya tidak mau kembali lagi. Dan satu hal lagi yang saya pelajari baru-baru ini (tidak ada kata terlambat untuk belajar) adalah untuk tidak mendengarkan kata-kata negatif dari orang lain. Saya tidak mau diri saya diatur oleh apa yang orang pikir tentang saya karena mereka tidak kenal saya seperti saya mengenal diri saya sendiri.
Hal lain yang ingin saya pelajari adalah menjadi asertif. Seperti umumnya orang timur, saya sering merasa pekeweuh bila harus bersikap asertif, berani menuntut atau meminta hak kita. Apalagi saya orang Jawa. Aduh banyak, deh, aturan yang mengharuskan diri kita untuk menjadi orang yang berani nerimo, sabar dan tidak banyak menuntut. Terus terang saya belum bisa 100% merasa asertif dalam artian positif. Tapi saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mencoba. Bagaimana dengan anda?
Langganan:
Postingan (Atom)